Jakarta - Generasi muda termasuk kelompok usia yang rentan imbas krisis ekonomi global. Selain dampak emosional akibat rusaknya fungsi keluarga bila orangtua mereka kehilangan pekerjaan, generasi muda juga sulit memeroleh lapangan pekerjaan. Hal ini berpotensi menyebabkan generasi muda tertekan bahkan melampiaskannya dengan cara negatif.
Demikian antara lain benang merah yang terangkum dalam diskusi Global Crisis and Young Generation yang berisi tukar pengalaman antara mahasiswa Kwansei Gakuin Jepang dan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga yang mengikuti program East Asia Students Encounter di Kampus UKSW Salatiga, Jawa Tengah, Jumat (21/8). Kegiatan itu berlangsung 17 Agustus hingga 29 Agustus.
Dalam paparan perwakilan mahasiswa Jepang, disebutkan dampak negatif krisis global mengakibatkan kasus bunuh diri pada warga usia 20 hingga 29 tahun meningkat. Dengan mengutip data dari Surat Kabar Nihon Keizai, mereka menyebutkan pada tahun 2009 sebanyak 250 orang bunuh diri. Angka ini meningkat 3,9 persen dibanding tahun sebelumnya. Disebutkan pula bahwa penyebab bunuh diri sebagian besar ialah kegagalan mencari pekerjaan.
Selain itu, krisis global juga membuat disfungsi dalam keluarga, terutama yang kehilangan pekerjaan. Komunikasi juga menjadi tersendat. Dampak krisis di jepang sangat besar. "Banyak generasi muda yang kehilangan harapan," tutur Li Mei Chen PhD Pimpinan Rombongan Mahasiswa Kwansei Gakuin University Jepang.